Minggu, 28 Oktober 2012
Menjadi Pemuda yang Keren
Selasa, 18 September 2012
Paham Produk
Senin, 17 September 2012
When I Meet Them
Begitu kira-kira pesan yang masuk di inbox FB (nggak kebales karena belum buka FB) yang akhirnya diberitahukan lewat SMS tanggal 16/9/12. SMS itu dikirim oleh Zahara Putri yang punya beberapa karya salah satunya antologi bersama yang berjudul "Negeri Sejuta Fantasi". Di setiap kopdar tentu banyak pengalaman yang bisa diabadikan untuk dipelajari dan dipraktekkan setelah kopdar selesai.
Nah, kali ini saya coba menuliskan apa yang saya dapat di kopdar kecil hari Minggu yang lalu.
- Seperti layaknya kopdar maka hal paling menyenangkan adalah bertemu dengan teman-teman baru atau sudah lama kenal di dumay tapi baru saja ketemu. Paling tidak akhirnya kita saling tahu wajah dan rupa masing-masing.
- Kopdar juga waktunya berbagi pengetahuan, ilmu, dan lain-lain. Kemarin saja saya mendapat banyak ilmu baru dari teman-teman dan bunda-bunda seperti bagaimana cara mereka memasarkan buku karya mereka, soal karya Eric Keroncong "Aku Ingin Sekolah Lagi" yang akhirnya terbit setelah ditolak beberapa penerbit, dan editor novel (wow keren lah pokoknya). Saya sempat minder soalnya belum bisa sharing banyak hehe (maaf ya...)
- Berhubung saya sedang mencoba bisnis buku maka kopdar juga sangat berguna. Hari itu saya dapat jaringan supply buku berupa antologi karya Zahara Putri dan kawan-kawan berjudul "Negeri Sejuta Fantasi".
- Salah satu yang menarik adalah kopdar tersebut tidak menggunakan organisasi kepenulisan manapun. Mereka yang suka nulis atau membaca boleh hadir dan sharing di sana. Ternyata, suasana yang semacam itu justru lebih seru dan lebih santai.
Semoga kopdar-kopdar selanjutnya bisa lebih ramai dan lebih banyak lagi manfaat yang bisa kita tularkan serta praktekan demi kemajuan dunia menulis di Indonesia.
Mari membaca dan menulis.
Jumat, 14 September 2012
Event Menulis untuk Berbagi
Assalamualaikum
Teman-teman, masih ingatkan bagaimana kita begitu ikhlas berbagi selama bulan Ramadhan kemarin? Apakah Cuma di bulan Ramadhan saja kita mau saling berbagi?
Kami mengadakan sebuah event (Lomba cerpen) dengan tujuan untuk berbagi bersama. So, siapkan tulisanmu untuk mengikuti event ini. Jangan Pernah Berhenti Untuk Selalu Berbagi
DL: 31 Oktober 2012
*25 Cerpen Nominator Dibukukan (Mayor/Indie).
TEMA:
Semangat Hidup Masyarakat Bawah (Fakir miskin, anak yatim, dll)
TUJUAN :
Untuk Berbagi Sesama (Semua Royalti Dari Penjualan Buku disumbangkan sepenuhnya kepada orang-orang yang layak, dan semua kontributor + penulis tamu mendapat laporan Royalti)
Panitia bisa langsung menganulir naskah peserta yang berisikan tindakan asusila, cabul, sadisme, kekerasan yang berlebihan terhadap anak dan wanita, merendahkan atau menghina keyakinan/agama/suku/daerah tertentu, dan yang tidak melengkapi persyaratannya (baca poin selanjutnya).
PESERTA:
Pelajar, mahasiswa, guru, dosen, penulis pemula, penulis senior, dan siapa saja boleh ikutan, tapi dengan ketentuan khusus (baca poin selanjutnya).
SYARAT PENULISAN:
Jumlah 4-6 halaman, spasi ganda (2), jenis huruf Times New Roman font 12, ukuran kerta A4.
Margin (garis): atas, bawah, samping kiri dan kanan (semua sisi 3 cm atau 1,18 inci), beri nomor halaman.
Kesesuaian dengan tema lomba dan tidak mengandung ponografi dan kekerasan, serta tidak menyinggung SARA.
Biodata narasi sekitar 100-200 kata plus foto diri dalam biodata (jika tidak ada, cerpennya dinyatakan GUGUR), yang ditulis pada halaman akhir naskah cerpen. (Untuk Biodata tidak dihitung Halaman)
Nama File cerpen sama dengan Judul Cerpen
Kirim naskah cerpen (dengan format .doc atau docx) ke alamat email: lomba_indahnya_berbagi@ymail.com (dengan menulis di judul/subjek email: Peserta Berbagi – Nama Penulis - Judul Cerpen)
Setiap peserta hanya boleh mengirim 1 cerpen terbaiknya.
KRITERIA PENILAIAN
1. Orisinalitas.
2. Kreativitas pengolahan ide.
3. Kedalaman pesan.
4. Keindahan bahasa, kaidah penulisan dan kelengkapan naskah.
PENGUMUMAN PEMENANG:
Pengumuman 25 Nominator 31 November 2012, Pengumuman Pemenang 15 Desember 2012.
HADIAH:
Juara I : Juara II : Juara III : Mendapatkan Paket Buku dari Para Donatur dan Penulis Tamu dengan Total ± 1 Juta Rupiah (Hadiah bisa bertambah jika ada tambahan dari donator lain)
Ke-25 Nominator Mendapatkan e-sertifikat dari Panitian
KETENTUAN KHUSUS:
Peserta WAJIB Mengkopi event ini ke note fb-nya masing-masing (bisa juga ke blognya) dengan Men tag fb-nya Rik Sjp
(info lebih lanjut klik di sini (www.sokjadipahlawan2.blogspot.com)
KETENTUAN MENGIKAT
Keputusan DEWAN JURI tidak bisa diganggu gugat.
Panitia tidak MELAYANI SURAT-MENYURAT.
DEWAN JURI berhak membatalkan keputusannya, jika di kemudian hari diketahui karya pemenang lomba melanggar karya cipta orang lain (plagiat)atau mengikuti lomba sejenis atau telah dimuat di koran/majalah.
HAK CIPTA tetap ada pada penulis, sedangkan PANITIA memiliki HAK untuk MEMPUBLIKASIKANNYA (membukukkannya).
Para Penulis Tamu :
Tha Artha
Repita Hadi
Nenny Makmun
Dian Sukma Kuswardhani
Rahmi Oktariza
Rini Asmara
Eva Riyanty Lubis
Ica Bdp
Monica Perta Full
Rofikoh ZraMagiztrian Mujahidah
Info Lengkap klik: www.sokjadipahlawan2.blogspot.com
Bagi yang ingin jadi donator bisa kontak di : 085766502837
atau e-mail : sokjadipahlawan@ymail.com
(DENGAN SEMANGAT BERBAGI, KITA IKUT MENIKMATI KEBAHAGIAN)
Kamis, 13 September 2012
Aku Tenang Engkau Senang
Sesosok perempuan paruh baya sekitar umur 50 tahun-an mengamati pria ini. Beberapa menit kemudian, perempuan ini tersenyum sambil mendekati pria itu.
Ibu: "Ada apa Nak? kok pagi-pagi sudah murung begitu?"
Pria: "Tidak ada apa-apa, Bu." (menggeleng)
Ibu: "Ceritakan sama Ibu, barangkali ibu bisa bantu."
Pria itupun akhirnya menyerah. Ia tahu bahwa ibunya tak bisa dibohongi apalagi melihat kondisinya pagi itu.
Pria: "Ibu pasti senang karena adik sudah bisa membahagiakan Ibu?"
Ibu: "Pastinya ibu sangat senang."
Pria: "Berarti ibu tidak bangga denganku yang masih seperti ini? Kadang aku iri bu melihat adik yang sudah bisa memberikan ibu banyak hal dan bisa lebih mandiri."
Ibu tersenyum lembut.
Ibu: "Ibu itu bangga sama semua anak ibu termasuk dengan kamu. Kalau ibu justru senang melihat salah satu keluarga ibu hidupnya senang dan berkecukupan. Dengan melihat mereka tenang dan sudah bahagia maka pasti ibu juga jadi bisa hidup tenang.
Pria: "Benar itu, Bu?"
Ibu: "Benar dong, contohnya sekarang Ibu hidupnya tenang-tenang saja kan? Nggak ada saudara yang berkeluh kesah soal ini dan itu ke ibu kalaupun mereka datang ke rumah pasti cerita soal kebahagiaan mereka. Ibu justru makin tenang."
Jika dipikir-pikir semua itu benar adanya. Melihat orang lain bahagia itu justru membuat hidup kita tenang apalagi kalau yang bahagia itu orang-orang terdekat.
Pria itu kembali merenung. Kali ini dengan wajah yang berbeda. wajahnya yang tadi kusut berubah menjadi datar dan mulai cerah. Kemudian, ia mengangguk membenarkan obrolan singkat dengan ibunya tercinta. Setelah itu, ia bergegas pergi untuk melakukan pekerjaan yang sudah ia tunda. Semacam ada semangat tambahan setelah obrolan tadi.
Rabu, 15 Agustus 2012
Ingin Seperti Bapak
Momen lebaran akan diikuti dengan momen mudik ke kampung halaman. Ini juga yang biasa kami lakukan setiap lebaran. Saya dan keluarga mudik ke tempat nenek dan kakek dari Bapak saya.
Ada cerita menarik yang biasa Bapak lakukan saat akan mudik. Beberapa hari sebelum lebaran dan mudik, Bapak biasa menelepon kakek dan nenek saya. Selain memberitahukan waktu mudik kami, bapak juga biasa menanyakan apa yang mereka inginkan untuk bapak bawakan nanti saat mudik.
Beberapa hari yang lalu bapak melakukan hal yang sama dan ternyata nenek saya ingin dibawakan sebuah merek minuman ringan. Kebetulan saya ikut bapak mencarikan produk minuman itu. Layaknya OSPEK kami mencari merek tersebut di beberapa toko. Bapak tak ingin mengecewakan nenek dengan membawakan merk yang berbeda dari pesanan. Alhamdulilah, akhirnya kami temukan juga merk minuman ringan tersebut. Rona puas terpancar dari wajah bapak.
Saya pun belajar bahwa membahagiakan orang tua itu penting. Saya berharap suatu saat nanti saya bisa menjadi seperti Bapak. Dikala saya mudik saya akan tanyakan keinginan mereka terlebih dahulu kemudian membawakannya. Sebenarnya kepuasan yang paling utama adalah melihat kedua orang tua tersenyum karena kita berhasil membawakan pesanan mereka. Semoga coretan singkat ini berguna bagi teman-teman yang membacanya.
Minal Aidzin Wal Faidzin. Mohon maaf lahir dan batin.
Rabu, 13 Juni 2012
Menulis dan Bisnis
Kalau bicara soal aktivitas menulis pastilah hampir semua orang bisa melakukannya. Sejak Sekolah Dasar kita sudah diperkenalkan dengan huruf-huruf yang disusun menjadi kata kemudian bisa dibaca. Setelah proses membaca akhirnya kita belajar cara menuliskannya. Sebenarnya hanya sedikit share kalau dengan belajar menulis maka pekerjaan kita pun bisa terbantu. Contohnya, saya sendiri yang saat ini bekerja sebagai content writer.
Sudah pasti bahwa menulis adalah kegiatan sehari-hari saya. Saya merasakan sekali manfaat setelah belajar menulis (baik dari buku atau online). Kata-kata yang saya tulis cenderung lebih terarah. Belajar menulis tidak hanya soal bagaimana menulis itu, tapi juga bicara soal editing. Dengan belajar editing sedikit demi sedikit tulisan kita akan membaik. Kenapa bisa membaik? Karena setelah belajar editing kita bisa mengkoreksi tulisan kita seperti penggunaan kata, EYD, tanda baca, cara penulisan, dan lain sebagainya. Profesi yang tidak ada hubungannya dengan menulis pun juga perlu adanya kemampuan menulis. Contoh, saya mau coba jadi entrepreneur nih ceritanya. Ternyata saya rasakan benar bahwa kemampuan menulis juga sangat diperlukan. Yang paling sederhana adalah menulis promo produk kita sendiri.
Dengan pilihan kata yang tepat dan tidak asal tulis saja ada kemungkinan pembeli akan lebih tertarik dari sebelumnya. Intinya sih ada informasi berguna bagi pembeli yang kemudian membuat mereka ingin membeli produk kita tersebut. Untuk saat ini baru 2 profesi itu yang sedang saya geluti dan saya merasakan manfaat belajar menulis untuk menunjang profesi saya tersebut. Boleh juga kalau ada yang mau menambahkan pengalamannya.
Ini dia tempat saya mengekspresikan naluri bisnis sekaligus naluri menulis.