Tampilkan postingan dengan label Belajar dari Jalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar dari Jalanan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Juni 2017

Soal Syukur

Sembari sahur dan mengantuk, saya menyimak kajian yang ada di salah satu stasiun televisi. Kemudian, ada pertanyaan, apa itu bersyukur? Dalam ceramah tersebut dikatakan bahwa bersyukur adalah melakukan sesuatu dengan apa yang kita miliki secara maksimal. Misalnya, kita dianugerahi mata yang normal, apa wujud syukur kita, ya melihat yang baik-baik menjaganya serta merawatnya. 

Setelah lumayan sadar dari mengantuk dan makan sahur selesai, saya mulai memikirkan tentang jawaban syukur tadi. Timbul pertanyaan dalam diri saya. Lalu, bagaimana saya yang suka menulis dan membaca ini belajar untuk bersyukur? Kalau merujuk jawaban di atas, berarti saya harus menulis yang baik dan membaca buku yang baik.

Baik dalam hal ini adalah menulis untuk pengembangan diri  ke arah yang lebih positif dari sebelumnya. Mengambil sesuatu atau makna dari tulisan kita sendiri (pernah seperti tertampar dengan tulisan sendiri?). Sama halnya dengan membaca yang baik. Bagi saya itu artinya proses membaca buku juga untuk mengembangkan diri ke arah yang lebih positif. 

Belajar bersyukur memang tidak mudah tetapi tetap harus diusahakan selama masih hidup. Pun terus berkarya dan semoga suatu hari nanti saya bisa membanggakan Indonesia melalui karya. Itulah wujud syukur menurut saya yang suka menulis dan membaca ini. 


NB: Aaah… saya jadi ingat postingan lama yang judulnya “Ketika Televisi Berpetuah”  

Minggu, 20 Desember 2015

Belajar Investasi Emas Bersama Pegadaian



Berpose dengan emas murni 100gram milik Pegadaian


Sudah pernah memegang emas murni 100gram? Saya sudah merasakannya hari Sabtu (19/12/15). Saya memegang emas murni tersebut secara langsung di acara yang diadakan oleh Pegadaian. Acara yang bertempat di Mall Olympic Garden, Malang tersebut mengusung tema investasi emas dan Pegadaian serba bisa. Awalnya, saya shock karena kebanyakkan yang hadir adalah ibu-ibu. Bahkan, saya dan Chandra Widy, teman saya sempat dikira mewakili orang tua kami masing-masing hehe. Ya, tapi kami mencoba percaya diri saja, yang penting dapat ilmunya hehe.

Pentingnya Investasi Emas
Seminar ini memang terbagi menjadi 2 bagian dengan 2 pemateri. Pemateri pertama adalah Ibu Rina Agustina. Beliau adalah praktisi investasi emas yang sudah berkecimpung di dunia emas selama setidaknya 21 tahun. Sebagai praktisi yang sudah makan asam garam di dunia peremasan, beliau memaparkan pentingnya investasi emas. Ada beberapa alasan mengapa kita harus berinvestasi emas:

  • Emas tidak terlalu berimbas dampak inflasi

Ibu Rina mengatakan bahwa di jaman Nabi Muhammad S.W.A dahulu, 1 koin emas bisa digunakan untuk membeli 1 ekor kambing layak korban. Hingga sekarang pun, jika kita memiliki 1 koin emas tersebut, kita juga akan tetap bisa membeli 1 ekor kambing layak korban. Padahal, harga kambing jaman dahulu pasti sudah berbeda dengan harga kambing saat ini, bukan?


  • Emas bersifat liquid

Jika dibandingkan dengan investasi yang lainnya, emas lebih liquid atau lebih mudah dijual dan lebih cepat mendapatkan uang. Anda bisa langsung menjual emas saat membutuhkan uang khususnya untuk kebutuhan mendesak. Bandingkan dengan investasi tanah atau saham yang tidak semudah emas.


  • Emas bisa dipilih untuk investasi jangka panjang

Walaupun bisa diuangkan dengan cepat, ada baiknya tidak menguangkan emas secara terburu-buru. Emas adalah investasi jangka panjang. Investasi jenis ini sangat berguna untuk yang ingin berencana menikah (nah ini! hehe), biaya pendidikan, modal usaha, membeli rumah, dan keperluan jangka panjang lainnya.

Fungsi Pegadaian yang Sudah Jauh Berkembang dari Sebelumnya
Pemateri selanjutnya adalah seorang ibu perwakilan dari Pegadaian. Pada sesi ke dua ini, saya mendapatkan pemahaman lebih mengenai fungsi Pegadaian. Maklum, seumur-umur saya belum pernah masuk Pegadaian (pertama kali masuk ya waktu mau daftar seminar ini hehe). 

Pemateri menjelaskan bahwa awalnya Badan Usaha Milik Negara ini hanya dikunjungi oleh mereka yang sedang membutuhkan uang. Mereka akan membawa barang yang sesuai standar Pegadaian dan menggadaikannya. Tidak heran jika dulu orang-orang masih malu kalau pergi ke Pegadaian. Seiring dengan berkembangnya jaman dan kebutuhan masyarakat, Pegadaian pun ikut berkembang. 

Saat ini, Pegadaian bukan hanya tempat untuk menggadaikan barang saja. Lebih dari itu, Pegadaian bisa digunakan untuk berbagai keperluan pendanaan. Seperti tagline acara ini “Pegadaian Serba Bisa”. Menurut perwakilan dari Pegadaian tersebut, BUMN ini mulai menangani pembelian sepeda motor secara kredit, pembelian dan gadai emas bahkan konsinyasi emas. Di harapkan dengan adanya acara ini, masyarakat tidak hanya memanfaatkan Pegadaian sebagai tempat menggadai barang saja namun lebih dari itu.

Acara ini juga merupakan soft launching Pegadaian di MOG (Mall Olympic Garden) dan Matos (Malang Town Square). Jadi, sekarang pelayanan Pegadaian lebih maksimal karena jika membutuhkan dana di hari Sabtu dan Minggu, warga Malang bisa langsung menuju ke salah satu dari mall ternama di Malang tersebut. Sedangkan, Pegadaian Pusat Malang tetap tidak beroperasi pada hari Sabtu dan Minggu.  

Sebenarnya, ada acara lanjutan yang paling ditunggu-tunggu peserta yang hadir, yaitu pengundian nomor peserta. Tidak heran jika semua antusias karena hadiah undian tersebut emas batangan. Acara juga cukup meriah dengan atraksi barong sai, akustik band, dan pengumuman pemenang lomba mewarnai untuk anak-anak. 

Sayangnya, saya tidak mengikuti acara ini sampai selesai karena ada keperluan. Salah satu ibu peserta bahkan sempat melarang kami pulang dahulu karena belum diundi. Berat juga mau pulang karena siapa tahu emas tersebut rezeki salah satu dari kami, tapi keperluannya lebih mendesak.Setidaknya saya mendapatkan ilmu mengenai investasi emas melalui Pegadaian. Tinggal praktiknya saja!

Untuk informasi lengkap bisa langsung kunjungi: www.pegadaian.co.id

Minggu, 29 November 2015

Ilmu Tentang Sarapan di Acara Jalan Sehat Bersama Energen

Suasana sebelum acara jalan sehat dimulai (doc. pribadi)


Tulisan saya kali ini akan berhubungan dengan sarapan. Ceritanya hari Minggu, 29/11/2015 saya mengikuti acara jalan sehat yang digelar oleh Energen, salah satu produk minuman instant dan Pergizi. Apa hubungannya dengan sarapan? 

Jadi, pada acara jalan sehat yang juga digelar untuk memperingati Hari Kesehatan Nasional ini, Energen ingin mempopulerkan sarapan pagi sebelum jam 9. Ternyata, sarapan pagi sebelum jam 9 pagi itu banyak sekali manfaatnya. Selain itu, Energen ingin mempopulerkan sarapan pagi karena 7 dari 10 anak Indonesia masih kekurangan gizi dan hal tersebut menghambat perkembangan fisik dan mental anak-anak Indonesia.  

Setelah sampai di tempat acara, Lapangan Rampal, Malang, saya langsung menukarkan kupon khusus untuk mengambil 4 sachet Energen. Saat saya datang, antrean sudah cukup panjang. Peserta mulai dari bapak, ibu, anak-anak sangat antusias mengikuti acara jalan sehat ini. Apalagi salah satu hadiah utamanya adalah sepeda motor.

Acara ini cukup seru karena sebelum jalan sehat dimulai, peserta bisa bermain game berhadiah paket keren dari Energen atau cek gizi. Setelah jalan sehat pun masih digelar senam pagi bersama.  
Nah, ada beberapa hal yang saya dapatkan dari acara jalan sehat yang diselenggarakan Energen ini.

Harus Sarapan, tapi dengan syarat
Dari jalan sehat bersama Energen ini, saya jadi tahu pentingnya sarapan pagi. Saya sendiri masih jarang sarapan. Saya hanya minum teh dan roti atau camilan jika ada.

Walaupun harus sarapan pagi tapi sarapan tersebut tetap dengan syarat. Menurut informasi yang saya dapatkan tersebut, "sarapan sehat adalah makan dan minum yang aman dan bergizi pada pagi hari sebelum jam 9 menjelang sekolah atau bekerja. Sarapan tersebut harus memenuhi 15% - 30% dari kebutuhan gizi harian."

Salah satu undangan pun memberikan pesan bahwa sarapan pagi yang tepat haruslah sarapan yang aman, bergizi seimbang, cepat untuk disajikan, dan enak.   

Manfaat sarapan sehat di pagi hari
Awalnya, saya bertanya-tanya kenapa harus sebelum jam 9 pagi? Memang kenapa kalau jam 10 ke atas? Ternyata jawabannya adalah karena jam sebelum jam 9 adalah jam di mana Anda mempersiapkan diri untuk aktivitas pagi hari. Setelah jam 9, kita sudah mulai sibuk dengan berbagai aktivitas mulai dari aktivitas ringan sampai berat. Bayangkan saja kalau kita tidak sarapan padahal aktivitas kita padat.

Berikut ini beberapa manfaat sarapan sehat sebelum jam 9 pagi
  • Memberikan energi sebelum melakukan aktivitas
  • Menambah konsentrasi
  • Lebih aktif
  • Anak tidak gampang marah dan gelisah
  • Pertumbuhan fisik dan mental lebih baik
  • Mengurangi jajan sembarangan untuk anak
Selain itu, peserta juga dibekali 10 pesan gizi seimbang dari KEMENKES, 2014
  1. Syukuri dan nikmati aneka ragam makanan
  2. Banyak makan sayuran dan cukup buah-buahan
  3. Biasakan mengkonsumsi lauk-pauk yang mengandung protein tinggi
  4. Biasakan mengkonsumsi aneka ragam makanan pokok
  5. Batasi konsumsi pangan manis, asin dan berlemak
  6. Biasakan sarapan
  7. Biasakan minum air putih yang cukup dan aman
  8. Biasakan membaca label pada kemasan pangan
  9. Cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir
  10. Lakukan aktivitas fisik yang cukup dan pertahankan berat badan normal 

Hal-hal unik di acara jalan sehat bersama energen 
Menurut saya, acara jalan sehat ini lebih dari sekadar acara jalan sehat biasa. Selain jalan sehat yang juga dianjurkan agar tubuh sehat da bugar, saya pun mendapatkan ilmu baru mengenai pentingnya sarapan.
Cara yang dilakukan oleh Energen dan Pergizi juga terbilang unik. Salah satu cara yang mereka lakukan untuk mengenalkan pentingnya sarapan adalah dengan memberikan komik. Komik tersebut berjudul “Ayo Sarapan Sehat!”. Selain itu, mereka juga memberikan berbagai informasi penting mengenai kesehatan seperti estimasi persentase lemak tubuh berdasarkan Indeks Massa Tubuh, umur, dan jenis kelamin. 

Sebelum acara dimulai, Energen juga mengajak peserta untuk minum Energen bersama. Yang menjadikan momen ini unik adalah minum bersama ini dilakukan serentak di 4 kota yaitu Malang, Semarang, Tangerang, dan Samarinda. Karena itu, acara minum bersama ini masuk dalam rekor MURI untuk peserta sarapan bersama terbanyak di Indonesia. Wah, saya senang sekali jadi bagian dari pemecahan rekor MURI.

Ada pula lomba foto live tweet. Jadi, peserta harus berfoto dengan latar belakang logo Energen. Foto harus bergaya dan berbeda dari biasanya. Nantinya, peserta diharuskan melakukan mention ke sebuah ID. Peserta dengan pose yang paling menarik akan mendapatkan hadiah dari Energen. Saya juga berkesempatan untuk berpose di lokasi lomba tersebut, tapi tidak ikut lombanya.  

Peserta jalan sehat juga bisa ikut mendukung gerakan sarapan pagi bergizi sebelum jam 9 pagi dengan cara menandatangani papan besar dengan logo Energen. Banyak sekali peserta yang menandatangani papan tersebut sekaligus mengabadikan dalam foto.

Intinya, hari ini saya senang sekali karena bisa mendapatkan ilmu dengan cara yang menyenangkan dan menyehatkan. Belajar bisa di mana saja termasuk saat olahraga. Semoga di tahun-tahun berikutnya Energen bisa menggelar acara serupa yang lebih seru lagi.

Minggu, 01 November 2015

Belajar Penerjemahan Indah di Seminar dan Semiloka Translation in the Global Era

Pemateri Hananto Sudharto dan Arif Subiyanto (doc. pribadi)

Tanggal 31 Oktober 2015 saya berkesempatan untuk mengikuti Seminar dan Semiloka “Translation in the Global Era”. Senang rasanya karena saya seperti nostalgia masa kuliah dulu terlebih acara ini digelar di Universitas Brawijaya dan oleh Fakultas Ilmu Bahasa (Prodi Sastra Inggris). 

Pemateri dari Seminar dan Semiloka ini terdiri dari 4 orang yaitu Hananto Sudharto, Arif Subiyanto, Anton Kurnia, dan John McGlynn. Semua pemateri tersebut sudah malang melintang di dunia penerjemahan. Contohnya saja, Pak John yang sudah menekuni bidang penerjemahan selama lebih dari 40 tahun dan telah membangun Yayasan Lontar hingga 28 tahun (fokus pada penerjemahan buku-buku klasik Indonesia). Berikut ini beberapa hal mengenai penerjemahan yang saya dapatkan setelah mengikuti Seminar dan Semiloka tersebut.

Proses penerjemahan tidak hanya proses alih bahasa saja
Jika dikatakan bahwa proses penerjemahan hanyalah proses alih bahasa dari bahasa sumber (bahasa asli) ke bahasa sasaran (bahasa lain), maka hal ini tidak sepenuhnya benar. Pasalnya, menurut pemateri, seorang penerjemah juga harus memperhatikan berbagai hal dalam proses penerjemahan termasuk soal estetika kata. Hal ini berkaitan dengan tujuan proses penerjemahan itu sendiri, yaitu menyampaikan makna tulisan dalam bahasa yang berbeda walaupun tidak diterjemahkan kata per kata. Walaupun begitu, bukan berarti penerjemahan kata per kata salah karena ada penerjemah yang menggunakan metode setia.

Selain itu, sebagai penerjemah kita juga harus memperhatikan aspek budaya baik budaya dari bahasa sumber ataupun bahasa sasaran. Contoh sederhana, jika di Indonesia panggilan Pak, Bu, Om dan lain sebagainya sangat umum namun saat diterjemahkan ke bahasa asing (Inggris) maka panggilan tersebut dirasa tidak perlu karena negara tersebut tidak menggunakan hal itu.

Proses penerjemahan adalah proses pemilihan diksi yang sesuai
Semua pemateri sepakat bahwa proses penerjemahan juga harus memasukkan unsur keindahan dalam kalimat. Tujuannya tentu selain agar dimengerti oleh pembaca juga agar hasil terjemahan enak untuk dibaca. Contohnya, penerjemah harus memperhatikan kesamaan bunyi pada akhir kalimat, ideom, gaya penulisan, dan lain sebagainya. Dari pemateri, saya pun tahu bahwa satu penerjemah dengan penerjemah lain bisa memiliki hasil terjemahan yang berbeda tergantung dari metode yang mereka pilih dan tentu saja pengalaman belajar mereka. 

Kesulitan saat proses penerjemahan
Profesi penerjemah bukanlah profesi yang mudah. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi oleh seorang penerjemah. Salah satunya adalah mengenai kalimat bahasa sumber yang terkadang tidak jelas. Menurut pemateri, jika sampai itu terjadi maka kita haru melakukan 3 hal:

  • Kita tidak perlu menerjemahkan kalimat tersebut 
  •  Mengkonfirmasi kepada penulis (menanyakan maksud dari kalimat tersebut)
  • Diberi tanda dan memberikan keterangan
Tantangan lain seorang penerjemah adalah soal waktu atau deadline. Tidak jarang, para penerjemah dikejar waktu deadline yang mepet. Padahal, untuk menghasilkan terjemahan yang enak dibaca dan sesuai dengan makna bahasa sumber tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Pemateri mencontohkan saat mereka harus menerjemahkan novel dengan tenggat waktu 6 bulan atau menerjemahkan film untuk festival namun dalam waktu beberapa hari saja. 

Salah satu pemateri, Pak John mencontohkan bahwa ia pernah menerjemahkan satu novel sastra hingga 1 tahun lebih. Namun, ada pula yang ia memutuskan untuk tidak menerjemahkannya karena bahasa sumber yang multi tafsir. Tantangan dukungan finansial pun dirasa masih kurang karena itu profesi penerjemah khususnya penerjemah profesional masih tidak terlalu diminati. Hal ini dibuktikan dengan sedikitnya penerjemah profesional. 

Tips penerjemahan
Sekali lagi, proses penerjemahan adalah proses yang panjang dan tidak langsung jadi dalam satu hari. Sebagai seorang yang sudah berkecimpung di dunia penerjemahan selama lebih dari 40 tahun, Pak John memiliki beberapa tips:
  • Terjemahkan dahulu hingga selesai (sama dengan proses menulis). Hasilnya adalah draf pertama.
  • Beristirahat (endapkan hasil terjemahan tersebut)
  • Lakukan editing dengan melihat bahasa sumber  dan hasil terjemahan
  • Beristirahat
  • Editing akhir (tanpa melihat lagi bahasa sumber)
  • Serahkan pada klien

Saya setelah mengikuti Seminar dan Semiloka "Translation in the Global Era" (doc. pribadi)

Nah, itu tadi setidaknya beberapa hal yang bisa saya dapatkan saat mengikuti Seminar dan Semiloka “Translation in the Global Era”. Tentu masih banyak lagi penjelasan dari para pemateri. Saya pun pernah menerjemahkan dan saya rasa profesi ini memang seru dan menantang.

Bagi saya, setidaknya saat menerjemahkan kita belajar sesuatu yang baru, kita mau tidak mau harus membaca, menulis, dan membuat kalimat yang dipahami tanpa mengubah esensi atau makna dari bahasa sumber namun harus juga memperhatikan tenggat waktu yang sudah disepakati. Oh ya, bonus dari menghadiri acara ini, saya juga bertemu dengan beberapa dosen saya waktu kuliah dulu.

“Saya pun sampai saat ini masih terus belajar menerjemahkan.”  - John McGlynn -